Pengaruh Narkoba terhadap Sistem Saraf

Posted by Berita Terhangat 0 komentar
Pengaruh Narkoba terhadap Sistem Saraf - Narkoba adalah singkatan dari narkotika dan obat/bahan berbahaya. Istilah Narkoba juga sebenarnya mengacu terhadap kelompok senyawa yang umumnya memiliki risiko kecanduan bagi penggunanya.

Meski memiliki resiko kecanduan bagi para penggunanya tetapi menurut pakar kesehatan, narkoba sebenarnya adalah senyawa-senyawa psikotropika yang biasa dipakai untuk membius pasien saat hendak dioperasi atau obat-obatan untuk penyakit tertentu.

Salah satu bahaya narkoba yang sering menjadi perbincangan adalah tentang adanya pengaruh Narkoba terhadap sistem saraf. Tentu hal tersebut bisa terjadi karena penggunaan narkoba tersebut tidak sesuai dengan dosis yang tepat dan bukan berada dibawah pengawasan dokter.

Secara umum ada empat macam obat yang berpengaruh terhadap sistem saraf. Adapun jenis-jenis narkoba yang memiliki pengaruh terhadap sistem saraf tersebut, diantaranya adalah sebagai berikut:

1. Sedatif, yaitu golongan obat yang dapat mengakibatkan menurunnya aktivitas normal otak. Contohnya valium.

2. Stimulans, yaitu golongan obat yang dapat mempercepat kerja otak. Contohnya kokain.

3. Halusinogen, yaitu golongan obat yang mengakibatkan timbulnya penghayalan pada si pemakai. Contohnya ganja, ekstasi, dan sabu-sabu.

4. Painkiller, yaitu golongan obat yang menekan bagian otak yang bertanggung jawab sebagai rasa sakit. Contohnya morfin dan heroin.

Penggunaan obat-obatan ini memiliki pengaruh terhadap kerja sistem saraf, misalnya hilangnya koordinasi tubuh, karena di dalam tubuh pemakai, kekurangan dopamin. Dopamin merupakan neurotransmitter yang terdapat di otak dan berperan penting dalam merambatkan impuls saraf ke sel saraf lainnya. Hal ini menyebabkan dopamin tidak dihasilkan. Apabila impuls saraf sampai pada bongkol sinapsis, maka gelembung-gelembung sinapsis akan mendekati membran presinapsis.

Namun karena dopamin tidak dihasilkan, neurotransmitte tidak dapat melepaskan isinya ke celah sinapsis sehingga impuls saraf yang dibawa tidak dapat menyebrang ke membran post sinapsis. Kondisi tersebut menyebabkan tidak terjadinya depolarisasi pada membran post sinapsis dan tidak terjadi potensial kerja karena impuls saraf tidak bisa merambat ke sel saraf berikutnya.