Perubahan Sosial Menurut Talcott Parsons

Posted by Berita Terhangat 0 komentar
Perubahan Sosial Menurut Talcott Parsons - Talcott Parsons adalah seorang sosiolog terkenal yang lahir di Colorando, Amerika Serikat, pada 13 Desember 1902. Talcott dalam konsep pemikirannya dikenal sebagai sosiolog kontemporer yang menggunakan pendekatan fungsional dalam melihat masyarakat, baik yang menyakut fungsi dan juga prosesnya.

Adapun karya Talcott Parsons yang cukup fenomenal dan dikenal luas oleh masyarakat dunia adalah mengenai teori fungsional tentang perubahan yang dicetuskannya. Dalam hal ini Parsons juga telah menganalogikan perubahan sosial pada masyarakat seperti halnya pertumbuhan pada mahkluk hidup. Disini sebagai komponen utama pemikiran Parsons adalah tentang adanya proses diferensiasi, yaitu asumsi bahwa setiap masyarakat tersusun dari sekumpulan subsistem yang berbeda berdasarkan strukturnya maupun berdasarkan makna fungsionalnya bagi masyarakat yang lebih luas.

Perubahan Sosial Menurut Talcott Parsons

Perbuahan sosial yang terjadi pada masyarakat menurut Parsons akan berdampak terhadap pertumbuhan kemampuan yang lebih baik bagi masyarakat itu sendiri, khususnya untuk menanggulangi permasalahan hidupnya. Dengan ide ini, Parsons juga terkenal sebagai golongan orang yang memandang optimis terhadap sebuah proses perubahan sosial.

Dalam hal penjelasan persoalan struktural fungsional, disini Parsons mengedepankan empat fungsi yang penting untuk semua sistim tindakan. Satu fungsi adalah merupakan kumpulan kegiatan yang ditunjukkan pada pemenuhan kebutuhan tertentu atau kebutuhan sistem. Untuk bisa bertahan, Parsons mengajukan empat fungsi yang harus dimiliki oleh setiap sistim, diataranya adalah sebagai berikut:

1. Adapatasi
Untuk bisa bertahan maka suatu sistim harus mampu menanggulangi respons yang datang dari luar. Sistim yang terbentuk harus bisa melakukan proses penyesuaian diri terhadap lingkungannya.

2. Pencapaian
Dalam proses keberlangsungannya suatu sistim harus memiliki suatu tujuan utama yang jelas. Tujuan itu harus mampu didefinisikan dengan gamblang sehingga sistim itu sendiri akan mampu mencapai tujuan tersebut.

3. Integrasi
Dalam sebuah sistim harus memiliki komponen-komponen yang saling berhubungan satu sama lain. Sistim tersebut harus bisa mengatur hubungan antar komponen tersebut secara harmonis dan mendukung jalannya sistim itu bekerja.

4. Pemeliharaan Pola
Harus ada motivasi yang jelas dan nyata dalam internal sebuah sistim. Selanjutnya sistim itu harus bisa melengkapi, memelihara dan memperbaiki motivasi individual maupun pola-pola kultural yang menciptakan dan menopang motivasi.